background img

SLBN BALIKPAPAN IKUT MENJERIT

1 week ago written by

Balikpapan – Tersendatnya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah provinsi ternyata tidak hanya dialami SMA/SMK di Kaltim, tetapi juga Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Balikpapan. Sebab sejak awal 2017 wadah pendidikan di jalan Syarifuddin Yoes ini juga tidak lagi dikelola Pemkot, tetapi oleh Pemprov Kaltim. Sejumlah kebutuhan sekolah pun terpaksa tertunda.

Menurut Kepala Sekolah SLBN Balikpapan Mulyono, sudah dua bulan terakhir dana BOS dari Pemprov Kaltim belum cair. Padahal sudah memasuki triwulan empat. “Harusnya September lalu sudah turun anggarannya. Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda cair,” ujarnya saat diwawancarai KPFM di kantornya, baru-baru ini.

Dengan tertundanya dana BOS dari provinsi, lanjut Mulyono, beberapa kebutuhan operasional sekolah ikut terganggu, seperti keperluan alat tulis kantor, dan keterampilan murid. Termasuk untuk pembayaran listrik, dan air.

“Beberapa fasilitas dan perlengkapan sekolah sebenarnya banyak yang harus dibenahi. Berhubung pemerintah sedang defisit, kami tahan dulu. Kami lebih memprioritaskan kebutuhan yang mendesak. Kami harus berhemat,” imbuhnya.

Dikatakannya, jumlah dana yang diberikan kepada SLBN dari BOS Nasional sebesar Rp333 juta per tahun. Sedangkan jumlah Bosda Provinsi sekitar Rp294 juta per tahun. Jumlah tersebut berdasarkan hitungan indeks jumlah murid.

“Sebenarnya jumlah dana BOS yang diperlukan SLB lebih besar dibanding sekolah yang lain, karena kebutuhan SLB lebih banyak. Pendidikan lebih menonjolkan pada keterampilan, sehingga biaya operasional pasti lebih banyak,” ujarnya.

Mulyono mencontohkan, harga kertas khusus yang dipakai murid tunanetra Rp500. Sedangkan kertas biasa hanya Rp200. “Bila anak SD biasa hanya butuh satu halaman, anak-anak tunanetra membutuhkan lima halaman, karena mereka memakai huruf braille. Belum lagi masalah bina diri anak didik yang membutuhkan kebiasaan dan aktivitas kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Agar tak terus menjerit, Mulyono berharap tahun 2018 dana untuk SLBN bisa ditingkatkan lagi supaya kebutuhan operasional bisa tercukupi dengan baik. “Semoga tahun depan isu dana BOS yang naik menjadi Rp2 juta per anak bisa terealisasi. Dan itu akan menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah pada SLBN sangat luar biasa,” imbuhnya.

Diketahui, SLBN yang berdiri sejak tahun 1984 ini memiliki 44 tenaga pengajar dan sekitar 300 anak didik yang terdiri dari SD, SMP hingga SMA. Mereka penyandang tunarungu, tunagrahita, tunanetra dan tuna daksa. (RARA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menu Title