background img

RSPB BAGI KACAMATA GRATIS

2 minggu ago written by
RSPB BAGI KACAMATA GRATIS (3)

KPFM BALIKPAPAN – Memperingati World Sight Day (Hari Penglihatan Sedunia) yang jatuh pada minggu kedua Oktober ini, Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) menyediakan 30 pasang kacamata yang dibagikan gratis kepada pasien mata selama Oktober ini.

Hal ini diutarakan Dokter Spesialis Mata RSPB dr Lilik Sujarwati Sp. M, saat bincang di program Interactive Healthy Care radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Senin (7/10). Saat talkshow hadir pula Humas RSPB Aditya Yorinda.

Lilik memaparkan, fenomena yang terjadi saat ini, di mana anak-anak sudah sangat familiar dengan gadget. Padahal sebenarnya usia yang dianjurkan memegang gadget adalah usia sekolah menengah pertama. “Menyiasatinya adalah dengan memberikan batasan penggunaan gadget atau gawai pada anak,” ujarnya.

Menurutnya, dampak penggunaan gawai berlebih yang muncul adalah refraksi, salah satu penurunan ketajaman penglihatan. Penyebab refraksi terbagi menjadi dua, yakni organik (katarak, diabetes dan sebagainya) dan non organik (yang bisa dikoreksi).

Sedangkan kelainan refraksi, lanjut Lilik, dibagi menjadi empat, yakni Miopia (rabun jauh), Hipermetropia (rabun dekat), Presbiopia (mata tua) dan Astigmatisme (mata silinder).

Ia menyarankan, pemeriksaan mata pada anak sebaiknya 3 kali pada saat usia anak mencapai 5 tahun. Yakni pada usia 6 bulan, 3 tahun dan 5 tahun. Terlebih pada anak yang terlahir premature dengan usia kandungan kurang dari 37 minggu, dan berat badan kurang dari 2.500 gram.

Karena, lanjutnya lagi, pada kondisi seperti ini syaraf mata masih belum matang. Untuk menghindari Retinopati prematuritas (ROP) stage 5. Untuk ROP step 1-2, saraf matanya bisa sembuh tanpa terapi, dilakukan observasi secara berkala tiap 2 minggu. Sedangkan step 3-4, dilakukan terapi tindakan injeksi saraf mata bahkan bisa dilakukan operasi vitrektomi. Sedangkan ROP stage 5 merupakan stadium lanjut, yang menyebabkan saraf mata lepas dan penyebab kebutaan

Lilik mengatakan, supaya mata tetap sehat, konsumsi sayuran yang berwarna orange, kuning dan sayuran hijau, penerangan yang cukup saat membaca, dan tidak sambil tiduran. Untuk pekerja yang sering kontak dengan komputer rentan terkena computer vision syndrome. Bisa diterapi dengan aturan 20-20-20, dimana 20 menit di depan komputer/gadget, mata diistirahatkan selama 20 detik, dan mata melihat sejauh mungkin  sekitar 20 kaki (6 meter). Disarankan melihat pemandangan atau yang warna yg hijau.

Seperti yang dialami Devi, seorang pendengar KPFM berdomisili di Kampung Timur. Ia yang mengalami pedih dan mata berair saat bekerja di depan komputer 5 hingga 6 jam. “Metode ini bisa diterapkan, kemudian bisa ditambahkan penyegar mata bila perlu,” ujar Lilik.

Dijelaskan, gejala seperti ini disebut computer vision syndrome. Sedangkan untuk jarak menonton TV, idealnya adalah ukuran TV dikali 2 – 2,5, kemudian dikali 2,5 Cm

(1 inch sekitar 2,5 cm). Contohnya TV 20 inch, jarak ideal menonton adalah 20 x 2 x 2,5 cm. Atau sekitar 1 meter.

“Semakin besar ukuran televisi, semakin jauh pula jarak ideal menontonnya. Bila perlu, beri lakban sebagai garis pembatas jarak ideal menonton TV untuk anak,” katanya.

Menutup perbincangan siang itu, Lilik mengimbau kepada masyarakat jangan segan untuk melakukan pemeriksaan mata setiap 6 bulan sekali. Untuk pemegang kartu BPJS juga ada subsidi kacamata. Kelas 1 mendapatkan subsidi Rp 300 ribu, kelas 2 mendapatkan subsidi Rp 200 ribu, dan kelas 3 mendapatkan subsidi Rp 150 ribu. Kalaupun ada indikasi medis seperti katarak dan perlu dilakukan operasi, dicover oleh BPJS. (JESSICA/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *