background img

POLITIK UANG IBARAT KENTUT

2 minggu ago written by
POLITIK UANG IBARAT KENTUT

KPFM BALIKPAPAN – Rembuk Etam garapan Kaltim Post dengan tema Bergelimang Politik Uang”berjalan lancar, Selasa (9/4).

Acara yang berlangsung di Blue Sky Hotel Balikpapan ini diikuti 15an peserta yang merupakan tokoh masyarakat dan caleg (Calon Anggota Legislatif) DPRD, DPR RI dan DPD RI.

Selain itu, hadir pula Ketua Bawaslu Balikpapan Agustan, perwakilan KPU Balikpapan dan perwakilan Polda Kaltim.

Fokus acara kali ini membahas tentang politik uang (money politic) yang masih kerap terjadi dalam perhelatan pesta demokrasi. Serta cara dan membangun komitmen bersama melawan segala bentuk tindakan yang berbau politik uang. Sehingga, praktik politik uang tak terjadi lagi dalam setiap pesta demokrasi.

Acara dimulai dengan pemaparan hasil survei Kaltim Post tentang sikap masyarakat menyikapi adanya politik uang. Dari survei tersebut, menegaskan politik uang masih terjadi. Namun kebanyakan tak  mempengaruhi pilihan politik.

Setelah itu, peserta rembuk kemudian memberikan pandangan, pengalaman dan sikap atau komitmennya melawan politik uang.

Secara bergantian para peserta menyampaikan argumennya masing-masing. Di antaranya Caleg DPRD Kaltim Dapil Balikpapan Muhammad Adam Sinte, Caleg DPRD Kaltim Dapil Balikpapan Andi Burhanuddin Solong (ABS).

“Politik uang ini hantu yang dibicarakan banyak orang. Tapi tidak terlihat wujudnya. Atau disebut hantu politik. Tapi tidak pernah ditangkap. Kita jangan jadi aktor ini,” kata Adam.

Sementara ABS menegaskan dirinya jauh dari perilaku politik uang. Menurutnya, politik uang awal mula perampokan hak rakyat. “Dua kali saya di DPRD, tidak pernah saya berpolitik uang. Politik uang itu ada karena bisikan setan. Yang membuat individu menjadi buta, sehingga nanti jadinya merampok hak rakyat,” tegasnya.

Setelah ABS, dilanjutkan dengan penyampaian pernyataan dari Andi Arif Agung, caleg DPRD Balikpapan yang juga menjabat sebagai anggota Komisi III DPRD Balikpapan.

Menurut kader Partai Golkar yang akrab disapa A3 ini, fenomena politik uang itu ibarat kentut. “Definisi politik uang seperti kentut. Tercium baunya, tapi bentuknya tidak terlihat. Enggak bisa ditangkap,” katanya.

Dari pengamatannya, politik uang sebetulnya tak perlu dilakukan untuk meraup suara dalam Pemilu, apalagi untuk Pileg (pemilihan legislatif).

“Masyarakat sebetulnya lebih apresiasi kita datang langsung menyapa mereka. Masyarakat butuh disapa, didatangi. Intinya, bagaimana kita membangun komunikasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Peserta lainnya, Caleg DPR RI Dapil Kaltim Erwin Izharuddin menegaskan, budaya politik uang itu masih menguat, terutama di masyarakat. Ini berdasarkan pengalamannya di beberapa tempat, saat melakukan sosialisasi untuk meraup suara.

“Memang kenyataan ada di lapangan. Tolong Panwas (Panitia Pengawas) keliling lah. Tolong dijaga betul-betul saat hari H (pencoblosan),” katanya.
Caleg DPRD Balikpapan yang juga sebagai wakil ketua DPRD Balikpapan, Thohari Aziz juga angkat suara terkait tema pembahasan.

Dalam forum yang dihadiri ketua Bawaslu Balikpapan itu, dirinya menyampaikan usulan. Terkait meningkatkan partisipasi masyarakat mengungkap adanya praktik politik uang. Baginya, tindakan money politic cukup meresahkan.

“Tentu meresahkan. Supaya ada efek jera, waktu yang ada ini Bawaslu bikin spanduk dan dipasang di beberapa tempat. Itu pun jika tidak melanggar aturan. Isinya, barang siapa yang berani melaporkan money politic akan diberikan 10 kali lipat dari yang diterima. Berikan masyarakat reward,” kata ketua DPC PDIP Balikpapan itu.

Untuk diketahui, kegiatan Rembuk Etam ini diselenggarakan Kaltim Post. Sebagai salah satu upaya mencari solusi mengatasi praktik politik uang yang masih nyata terjadi, hingga menjadi momok bagi sistem demokrasi. (ARIYANSAH/KPFM)

Article Categories:
News

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in D:\_htdoc\kapefm.com\wp-includes\class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *