background img

PKL LIAR PANDANSARI TAK JERA

2 weeks ago written by
logom kp PNG

Balikpapan – Persoalan PKL (Pedagang Kali Lima) liar di kawasan pasar tradisional Pandansari, Balikpapan Barat, hingga kini belum juga selesai. Mereka tetap ngotot berjualan di atas trotoar dan di bahu jalan. Hal ini mengganggu arus lalu lintas sekitar. Penertiban yang acap dilakukan Satpol PP tak membuat jera.

Keberadaan PKL liar tersebut selalu dikeluhkan beberapa pedagang yang mempunyai lapak di dalam pasar Pandansari. Salah satunya adalah Agus. Penjaja sayuran itu mengaku terganggu bila PKL tersebut terus berjualan di luar pagar pasar. Pasalnya, dia dan pedagang lainnya merasa dirugikan karena konsumen lebih memilih belanja pada PKL yang berada di pinggir jalan.

“Kalau perlu setiap hari ada Satpol PP agar mereka nggak berani jualan di sana,” ujarnya saat diwawancarai KPFM Rabu (8/11).

Kepala UPT Pasar Pandansari Ride juga mengungkapkan hal yang sama.

“Banyak pedagang dalam pasar yang protes. Saya sampaikan ini ke Dinas yang mengurusi pasar. Tetapi sampai sekarang belum ada tindakan dari Pemkot, hanya Satpol PP yang bertindak. Dan itu pun masih belum berhasil, terbukti mereka masih berjualan juga di sana sampai sekarang,” kata Ride.

Dikatakannya, sebenarnya keberadaan PKL tersebut tidak dilarang sepenuhnya. Ada waktu tertentu yang sudah ditetapkan untuk mereka.

“Boleh berjualan, asalkan sesuai waktu yang telah ditentukan, yakni dari pukul 17.00 hingga 05.00 Wita. Karena pada waktu itu kami sudah nggak berjualan,” sambungnya.

Bukan hanya itu, lanjut Ride, jika dilihat dari sisi pendapatan daerah, para PKL tersebut tidak menyumbang sepeser pun karena tidak ada retribusi yang masuk dari mereka. “Menurut pantauan kami, PKL yang berjumlah lebih dari 500 pedagang tersebut ternyata tidak membayar retribusi satu rupiah pun. Berbeda dengan para pedagang dalam pasar, setiap hari mereka membayar retribusi Rp5 ribu per lapak untuk kas daerah,” katanya.

Selain tidak membayar retribusi, lanjutnya, para PKL juga turut menyumbangkan sampah hingga 30 ton per hari. “Kalau kami mempunyai TPS terpadu di dalam pasar dan jumlahnya tidak sampai segitu,” papar Ride.

Dirinya berharap, Pemkot dapat mengambil langkah dan kebijakan dengan tegas untuk membuat mereka jera. Jika perlu, dinas yang mengurusi pasar dan para stakeholder terkait duduk satu meja untuk mencari solusi yang tepat.

Seperti diketahui, sebagian PKL itu adalah pedagang yang menjadi korban kebakaran pasar Pandansari beberapa tahun lalu. Mereka sudah ditempatkan pada bangunan pasar yang baru, namun lantaran menganggap tidak strategis, mereka pun berjualan di luar gedung. (RARA/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menu Title