background img

PERLU, KELOLA KESELAMATAN DI WORKSHOP

2 bulan ago written by
PERLU, KELOLA KESELAMATAN DI WORKSHOP

KPFM BALIKPAPAN – Segmen Ruang HRD pada program Karir dan Keluarga (KK) radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, bersama HSE Indonesia Regional Balikpapan, edisi siar Selasa (9/4), mengangkat tema Tips Keselamatan Kerja di Workshop. Menghadirkan dua narasumber, Yan Fuadi dan Yuli M Najih.

Tema ini menarik, karena potensi ancaman bahaya pada saat bekerja di bengkel cukup tinggi. Seperti kegiatan perbaikan dan perawatan kendaraan, atau perlengkapan seperti mesin yang berputar, chemical, dan pekerjaan yang menimbulkan panas ada dalam workshop.

“Banyak kecelakaan di workshop seperti terjatuh saat bekerja di ketinggian, tertimpa material, terpeleset, tersandung, terpukul atau tertabrak unit. Karena potensi bahaya di workshop yang sangat tinggi, maka diperlukan pengelolaan keselamatan dalam workshop,” ujar Yan Fuadi.

Menurutnya, ada beberpa tips keselamatan dalam workshop, di antaranya mengidentifikasi semua bahaya yang ada di bengkel sebelum memulai pekerjaan, memeriksa (check) semua perkakas atau perlengkapan yang dipakai saat bekerja, apakah dalam kondisi baik dan standar. Mematuhi prosedur keselamatan kerja sebelum memulai pekerjaan, konsentrasi dan selalu menjaga lingkungan kerja tetap bersih. “Maksudnya, tidak ada ceceran oli. Perkakas tersimpan pada tempatnya, dan menggunakan APD (alat pelindung diri) setiap waktu,” katanya.

Ia mengilustrasikan sebuah kebiasaan di tempat kerja yang terkadang terbawa dalam keseharian. Ini berarti behavior (tingkah laku). Contohnya, operator yang diwajibkan membunyikan klakson 1 kali saat menyalakan mesin, klakson 2 kali saat akan maju, dan klakson 3 kali saat akan mundur. Cara ini dilakukan karena pekerjaan di tambang risiko blind spot cukup tinggi, ditambah banyaknya alat berat.

Operator tidak bisa melihat kondisi operator lain, dan tanda ini juga memberi awarness untuk orang di sekitar. Dengan ada isyarat klakson itu, maka akan memberikan tanda pada orang di sekitar agar bisa mengatur posisi. “Nah, cara ini tentu saja tidak perlu dilakukan operator saat berada di tempat umum,” katanya.

Menutup obrolan, Yan yang juga sebagai dosen di salah satu universitas di Balikpapan ini mengatakan, “Di manapun kita bekerja, itu sama. Ada risiko. Namun risiko dan hazard (bahaya) di workshop lebih banyak. Seperti benda panas, alat yang berputar, chemical. Di beberapa workshop bahkan memberi kode warna lantai, untuk memberikan safety issue,” imbuhnya.

Sedangkan Yuli berpesan, “Bagi pekerja workskop yang tidak mengenali bahaya di tempat kerja, sebaiknya mulai mengenali. Karena dengan begini kita bisa mengontrol dan mengetahui cara pengendaliannya.” (JESSICA/KPFM)

Article Categories:
News

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in D:\_htdoc\kapefm.com\wp-includes\class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *