background img

MASYARAKAT JANGAN TAKUT DENGAN MEA

6 bulan ago written by
WWW.KAPEFM.COM

KPFM BALIKPAPAN – Pemerintah meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak terlalu takut dan khawatir dengan kebijakan yang ada pada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena, misalnya, tidak semua Tenaga Kerja Asing (TKA) bisa dengan mudah masuk ke Indonesia.

Demikian disampaikan Kepala Subdit Kerja Sama Industri dan Perdagangan, Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN (Dit. KSEA), Kementerian Luar Negeri, Nur Rokhmah Hidayah didampingi Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan Kementerian Hukum dan HAM Molan Karim Tarigan saat bincang sore di program Relax on Radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, Kamis (4/10).

“Selama ini MEA itu banyak disalahpahami dan dipenuhi mitos yang membuat khawatir. Seolah-olah semua terbuka untuk tenaga kerja asing. Padahal kenyataannya tidak semua pekerja asing bisa masuk ke Indonesia,” kata Nur Rokhmah dalam obrolan santai yang dipandu dua penyiar KPFM Joy dan Rey.

Dia menjelaskan, berdasarkan Mutual Recognition Arrangement (MRA) yang sudah dilakukan negara-negara ASEAN, profesi yang disepakati dalam kerangka MEA hanya delapan. Jabatannya juga spesifik dan tidak umum. Itu pun hanya diperbolehkan bagi pekerja asing terdidik yang mempunyai keterampilan khusus dan profesional.

Delapan profesi profesional yang dimaksud seperti insinyur, perawat, arsitek, tenaga survei, akuntan, praktisi medis, dokter gigi dan tenaga pariwisata. Dengan demikian, TKA yang bisa masuk ke Indonesia dalam kerangka MEA bukan TKA asal-asalan. Mereka juga tetap harus mengikuti peraturan ketenagakerjaan.

“Ini lebih terkait soal MRA, jadi ada pemahaman sama mengenai kompetensi. Intinya bagaimana seseorang dianggap skilled di negaranya, juga dianggap skilled di negara lain,” jelasnya.

Dia menambahkan, MEA juga memberikan banyak peluang kepada masyarakat Indonesia. Karena MEA tidak hanya mengatur perdagangan barang dan tenaga kerja. Tapi juga mengatur tentang investasi dan kerjasama konektivitas komprehensif.

“Dengan begitu tidak ada lagi istilah untuk bergerak di kawasan Asean kita kesulitan. Nah, inilah yang sebenarnya diciptakan oleh MEA. Jadi, salah paham karena aspeknya luas,” ungkapnya.

Meski demikian, ada tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dalam persaingan MEA. Utamanya adalah daya saing, karena memang dalam peringkat indeks daya saing global Indonesia masih kalah dari dua negara ASEAN, bahkan masih kalah dari Thailand.

“Nah, ini yang perlu ditingkatkan. Yakni daya saing masyarakat Indonesia. Ada banyak cara seperti dari segi regulasi, penyederhanaan birokrasi, mempermudahkan perizinan usaha dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Selain itu, tantangan terbesar bagi Indonesia adalah pola pikir masyarakat yang cenderung inward looking, dan pesimistis. Hal itu terlihat dari rendahnya ekspansi pengusaha nasional ke negara-negara ASEAN.

“Termasuk juga dalam memanfaatkan ASEAN branding pada strategi pemasaran produk, sebagaimana dilakukan oleh salah satu bank asal negara jiran,” ucapnya.

Lantas bagaimana peluang Indonesia pada MEA?
Nur Rokhmah menuturkan, MEA merupakan peluang baik bagi Indonesia untuk peningkatan daya saing nasional. Yaitu, dengan memanfaatkan integrasi ekonomi ASEAN sebagai training ground guna menghadapi persaingan di kancah global.

“Selain sembilan negara ASEAN, Indonesia juga menyasar banyak negara di berbagai benua. Termasuk negara maju yang persyaratannya lebih ketat. Dalam kaitan itu, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara eksportir lain, dengan tingkat daya saing menjadi kata kuncinya,” tandasnya. (FREDY JANU/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in D:\_htdoc\kapefm.com\wp-includes\class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *