background img

KLINIK DIABTES RSPB UNTUK UMUM

1 minggu ago written by
KLINIK DIABTES RSPB UNTUK UMUM (3)

KPFM BALIKPAPAN – Klinik Diabetes Terpadu di RSPB (Rumah Sakit Pertamina Balikpapan) yang baru diresmikan bertepatan dengan ulang tahun ke-32 pada 4 April lalu, merupakan one stop service kepada para pasien penderita diabetes.

“Dulu para pasien diabetes biasanya hanya datang ke dokter, cek gula darah dan pulang membawa obat. Namun kini dengan adanya klinik diabetes terpadu, penderita diabetes mendapatkan edukasi dari dokter, ahli gizi dan informasi dari para perawat,” jelas dr Rudy Mokodompit Sp PD Sp KL saat talkshow di radio KPFm 95.4 Mhz Balikpapan, Jumat (12/4).

Bincang siang program Interactive Healthy Care bersama RSPB itu, Rudy didampingi Perawat Edukator Klinik Diabetes Terpadu RSPB Mukhlis Supriyadi Amd Kep CWCCA, dan Pengawas Komunikasi dan Pengembangan Produk RSPB Liza Permatasari Dipl PR SPd.

Dijelaskan, Klinik Diabetes Terpadu berada di lantai 2 Gedung C RSPB. Terbuka untuk masyarakat umum dan pendaftaran bisa dilakukan di lantai 1.

Menurut Rudy, diabetes sebagai penyakit komplikasi penyebab kematian berada pada posisi nomor 4 dunia, dan sebagai penyakit yang menguras banyak uang berada pada posisi ketiga.

“Ada tiga tanda penyakit kencing manis atau diabetes melitus yang sering kita abaikan, seperti sering merasa haus, sering buang air kecil pada malam hari dan sering merasa lapar. Diabetes ini seperti gunung es, yang terlihat hanya permukaan saja,” ujarnya.

Saat ditanya persentase masyarakat Balikpapan yang berpotensi diabetes, Rudy menjelaskan, seperempat dari populasi masyarakat Balikpapan ini bisa masuk dalam kategori gangguan toleransi gula.

“Agar terhindar dari penyakit diabetes, diperlukan edukasi untuk masyarakat. Hanya sedikit dari pasien yang peduli dengan obat yang dikonsumsi. Ini bisa diketahui saat ditanya obat apa yang dikonsumsi, banyak pasien yang tidak tahu. Bahkan ada yang sudah mengonsumsinya selama bertahun-tahun,” katanya.

Klinik Diabetes Terpadu RSPB buka setiap hari Senin hingga Jumat mulai pagi pukul 8.00 hingga siang pukul 12.00 Wita, dan pukul 14.00 sampai 16.00.

Menurut Mukhlis, ada 4 pilar yang wajib dilakukan untuk penderita diabetes. Yang pertama, kontrol rutin ke dokter, pola makan, olahraga dan edukasi tentang diabetes. Olahraga yang dianjurkan untuk penderita diabetes adalah sepeda, renang dan jogging. “Bila ketiganya tidak bisa dilakukan, setidaknya penderita diabetes bisa melakukan senam kaki,” sarannya.

Mukhlis menjelaskan, pada penderita diabetes biasanya terjadi kekurangan kelembaban pada kaki, perubahan warna kuku, penebalan kulit pada tumit dan jempol, serta seringnya terjadi luka pada kaki.

“Luka pada kaki sering terabaikan, karena penderita diabetes biasanya tidak merasakan alias kebal. Sehingga tidak jarang luka menjadi parah dan harus diamputasi,” bebernya.

Dengan melakukan senam kaki, lanjutnya, diharapkan pada penderita mulai memperhatikan kesehatan kaki.

Senam kaki bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, bahkan sambari masak pun bisa. Kaki menapak pada lantai, gerakan pertama adalah kaki digerakkan seperti mencakar, lakukan 8 hingga 10 kali. Kemudian gerakan kedua adalah gerakan seperti menjahit, angkat jari-jari dan jadikan tumit sebagai tumpuan, kemudian letakkan jari-jari dan angkat tumit, kini jari-jari sebagai tumpuan. Lakukan berulang 8 hingga 10 kali gerakan.

Gerakan ketiga, angkat jari-jari kemudian lakukan gerakan memutar keluar dan tumit sebagai tumpuan. Letakkan jari-jari kaki lalu geser kembali keposisi awal. Gerakan ke empat jari-jari sebagai tumpuan, angkat tumit lalu lakukan bergerak ke arah keluar. Letakkan tumit dan geser kembali ke posisi awal.

Sesangkan gerakan ke empat, lanjutnya, adalah kebalikan dari gerakan ke tiga. “Ini hanya sebagian dari senam kaki yang kami ajarkan. Ada banyak gerakan senam kaki lainnya,” imbuh Mukhlis.

Ditambahkan, saat ini dalam satu ruangan ada sekitar 15 hingga 20 orang pasien diabetes yang mengikuti Klinik Diabetes Terpadu RSPB, belum termasuk pendamping yang kadang lebih dari satu orang.

Diharapkan pendamping juga memahami hal-hal yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari oleh penderita diabetes. Termasuk cara menyuntikkan insulin pada penderita. Ada empat area yang dianjurkan untuk suntik insulin, yakni bahu, perut, paha dan bokong. Untuk pasien mandiri (bisa menyuntik insulin sendiri) disarankan pada area perut dan paha.

Dijelaskan, saat menyuntik pun disarankan tidak pada tempat yang sama, ini untuk menghindari nyeri, proses penyembuhan akibat jarum suntik dan untuk kenyamanan pasien.

Area perut yang tidak boleh disuntik adalah seukuran 3 jari dari pusar perut, ke kanan, kiri, bawah dan atas. Beri jeda 2 jari untuk setiap suntik dan berpindah area suntik (kanan, bawah, kiri dan atas).

“Anjuran ini agar proses penyembuhan pada kulit yang membutuhkan waktu 3 x 24 jam bisa terjadi. Bila pada satu titik saja, biasanya kulit perut akan terasa keras dan nyeri, ini bisa menyebabkan pasien akhirnya tidak mau suntik insulin lagi,” katanya. (JESSICA/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in D:\_htdoc\kapefm.com\wp-includes\class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *