background img

JERITAN DAN AIR MATA DI TENDA PENGUNGSIAN

6 bulan ago written by
IMG_20181003_161225

KPFM BALIKPAPAN – Suasana duka bercampur pilu menyelimuti tenda pengungsian warga korban gempa dan tsunami di halaman Base Ops Lanud Dhomber Balikpapan, Rabu (3/10). Di tempat ini para korban bencana alam yang mengguncang Kota Palu dan Kabupaten Donggala beberapa waktu lalu, tengah merenungi nasibnya.

Di antara mereka ada yang terlihat pasrah menerima kenyataan. Wajahnya nanar. Nyaris tak ada lagi tawa dan senyum kegembiraan memancar di raut wajah mereka. Utamanya kalangan anak-anak. Pun, tak hadir lagi keceriaan. Mereka harus melewati hari-harinya di tenda pengungsian.

Salah satu di antaranya adalah Suki (14). Pelajar kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Palu itu tak sanggup menahan sedih. Air matanya tumpah ketika ditanya seputar kejadian yang baru dia alami. Sejenak suasana pun menjadi hening. Suki kemudian duduk di samping ibu dan kakaknya, seraya menatap wajah ibu yang juga membasahi kedua matanya dengan tetes air kepiluan.

“Takut, saya masih takut. Saya trauma kalau dengar kata gempa dan tsunami,” ujar anak berkulit sawo matang itu sambil menggenggam erat tangan ibunya.

Saat gempa terjadi, Suki menceritakan dirinya sedang berada di depan teras toko milik ibunya yang berada di Pasar Impres Kota Palu. Sementara ibu dan sang kakak berada di dalam rumah dengan aktivitasnya masing-masing.

“Waktu terjadi gempa itu saya sedang parkir motor di teras toko. Tiba-tiba ada getaran kecil. Kemudian muncul getaran susulan yang lebih besar dan saya langsung teriak sambil menuju salah satu pohon kayu di depan toko. Saya pun langsung memeluk pohon itu sembari menunggu ibu dan kakak keluar dari dalam toko. Beruntungnya ibu dan kakak cepat keluar sehingga kami bisa menyelamatkan diri sebelum toko rata dengan tanah,” ceritanya sambil menunjukan raut wajah sedih.

Usai kejadian itu, Suki bersama keluarga langsung menuju titik di mana semua warga yang selamat dari gempa tersebut berkumpul. Dan menunggu bantuan datang untuk mengungsi keluar dari Kota Palu.

Namun demikian, untuk keluar dari Kota Palu, Suki dan keluarga harus bersabar terlebih dahulu, karena menunggu giliran pesawat.

“Ada ribuan warga yang mau mengungsi dari Kota Palu. Jadi kami harus menunggu giliran pesawat, dan bersyukur tadi pagi kami mendapat giliran pesawat. Tidak penting tujuannya kemana, yang penting keluar dulu dari Kota Palu,” ujarnya dengan tatapan kosong.

Sementara Mawin (38) yang juga ibu kandung Suki mengatakan bahwa, setelah dari pengungsian ini, dia bersama kedua buah hatinya akan berangkat menuju Jakarta untuk bertahan hidup beberapa waktu ke depan.

“Dari pengungsian ini saya dan anak-anak ke Jakarta. Kebetulan di sana ada keluarga. Kami akan menetap di sana sampai kondisi di Kota Palu benar-benar sudah kondusif. Pasti balik ke Palu karena anak-anak masih sekolah, tapi yang penting kami aman dulu sementara waktu,” ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan Salmon (63). Pria berambut putih itu merasakan trauma yang mendalam pasca kejadian tersebut. Meski begitu, dia tidak sungkan bercerita awal kronologi gempa dan tsunami yang terjadi.

Ia mengurai kembali masa-masa mengerikan sekaligus menyedihkan itu. Menggambarkan suasana, dan meniru suara-suara jeritan saat gempa. Tak hanya sekadar berkisah. Dia juga menyampaikan beribu hikmah atas tragedi itu.

“Saya sedih kalau mengingatnya. Rumah saya yang dibangun dengan hasil kerja sendiri roboh dalam hitungan detik. Tapi saya tetap bersyukur dan ambil hikmahnya. Mungkin kita banyak dosa, sehingga Allah peringatkan melalui bencana,” ungkapnya.

Pada saat terjadinya gempa, lanjut Salmon, dia bersama istrinya sedang berada di dalam rumah. Hanya saja, saat gempa yang pertama muncul rumah masih belum roboh. Dan saat itu dia bersama istri langsung berlari keluar dari rumah, karena ada getaran susulan yang lebih besar.

“Getaran susulan yang ketiga yang paling besar sudah. Rumah saya langsung ambruk dalam sekejap. Saya sudah tidak sempat lagi menyelamatkan barang-barang seperti surat berharga dan lainnya, karena ada teriakan dari warga kalau ada tsunami. Saat itu saya dan istri langsung lari ke daerah yang lebih tinggi bersama warga lainnya,” cerita Salmon sambil menitikan air mata.

Usai dari pengungsian ini, lanjutnya, dia bersama istri akan berangkat menuju Tanah Grogot, Kabupaten Paser, untuk bertahan hidup sementara waktu. Dia mengaku belum berani kembali ke Kota Palu karena masih trauma berat.

“Belum tahu kapan kembali ke Palu. Yang penting aman dulu. Sementara kami akan berangkat ke tempat keluarga di Tanah Grogot,” ungkapnya.

Seperti diketahui pada Jumat (28/9) lalu, telah terjadi bencana gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Donggala dan Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Akibat dari bencana tersebut ribuan warga kehilangan nyawa dan meluluhlantakkan banyak bangunan. Bahkan, ada satu kampung di Kota Palu yang hilang ditelan tanah. Karena kontur tanah bergeser hingga menimbulkan longsor.

Pasca kejadian tersebut, sejumlah korban yang selamat dievakuasi ke kota terdekat. Dan Balikpapan ditunjuk sebagai lokasi utama untuk evakuasi para korban. (Fredy Janu/Kpfm )

Article Categories:
News

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in D:\_htdoc\kapefm.com\wp-includes\class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *