background img

DESALINASI MAHAL, PROYEK TETAP JALAN

4 months ago written by
16 FEBRUARY 2017 - 4

Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan terus berupaya mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan air baku di Kota Minyak. Salah satu terobosannya yakni desalinasi air laut menjadi bahan baku air minum. Meski biaya produksi desalinasi air laut terbilang mahal, Pemkot berupaya menyelesaikan proyek tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Suryanto mengatakan, desalinasi air laut prosesnya tetap berjalan dan saat ini dalam proses persiapan lelang. Dia memastikan proyek ini tidak mengganggu lingkungan hidup sekitar yang akan menjadi area penyulingan air laut menjadi air tawar. “Kita mendukung adanya desalinasi ini, dan tidak ada pengaruhnya terhadap lingkungan. Kalau memang itu dilakukan, Balikpapan akan aman dari krisis air,” tandasnya saat ditemui KPFM di aula Kantor Walikota Balikpapan, Kamis (16/2).

Namun diakuinya harga air baku dari proses desalinasi sangat mahal, yakni tiga kali lipat dari harga produksi  air Waduk Manggar. Harga jualnya sekitar Rp23 ribu/kubik. “Harganya memang mahal. Dulu waktu di Bappeda pernah ada kajian, dari capital expenditure (pengeluaran modal) ditambah dengan operating expenditure, lalu dibagi harga satuan maka ketemu harga jual Rp23 ribu per meter kubik. Sementara harga air dari PDAM itu hanya Rp8 ribu per meter kubik,” tukasnya membandingkan.

Dikatakannya, sepanjang harga jual itu masih ada yang berminat, maka tidak ada masalah proyek ini berjalan. “Ketika dengan harga tiga kali lipat ini ada yang mau beli saya kira tidak ada persoalan,” ujarnya. Suryanto melihat ada perbedaan antara air laut hasil desalinasi dengan air tawar yang diproses PDAM. Menurutnya, kandungan mineral lebih banyak air laut yang melalui proses penyulingan membran. “Air PDAM dengan desalinasi air laut itu sama sebenarnya. Namun dari hasil kajian mineralnya lebih besar air laut. Kalau kita bicara manfaat mineral untuk kehidupan, tentu lebih bagus air laut dari air tawar untuk diminum,” jelasnya.

Pria berkacamata itu juga mengakui, dari sisi pengolahan biaya operasional desalinasi sangat mahal, sekalipun untuk pengadaan mesinnya justru tidak terlalu mahal. “Mesinnya itu nggak mahal. Tapi biaya operasionalnya yang mahal, karena harus selalu mengganti membran. Membran itu perlu tekanan tinggi. Nah, karena tekanan tinggi itu perlu listrik yang tinggi juga, maka inilah yang menyebabkan  membrannya sering rusak, dan selalu diganti,” katanya. (FREDY/KPFM)

Article Categories:
News

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menu Title