background img

50 PERSEN PENGGUNA VAPE JUGA PEROKOK

3 bulan ago written by
50 PERSEN PENGGUNA VAPE JUGA PEROKOK (3)

KPFM BALIKPAPAN –  Interactive Healthy Care bersama Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) di program Karir dan Keluarga (KK) radio KPFM 95.4 Mhz Balikpapan, edisi siar Jumat (31/5), memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tema yang diangkat; Mengapa Rokok Sangat Dimusuhi? Menghadirkan narasumber dr. Subagyo Sp.P.

Subagyo mengatakan, mengapa disebut hari tembakau sedunia, bukan rokok? Karena tembakau tidak hanya digunakan pada rokok. Tetapi juga pada vape, shisha dan menginang. Dalam rokok, terdapat kandungan nikotin, yaitu zat yang membuat perokok menjadi candu. Selain itu ada tar, yakni zat yang menyebabkan efek samping pada perokok.

“Pada vape, tidak terdapat kandungan tar, namun zat atau aroma pada vape adalah media yang berisiko kuman  tuberculosis (TB) lebih mudah melekat,” jelas Subabyo didampingi Humas RSPB Aditya Yorinda.

Pada awalnya, lanjut Subagyo, rokok elektrik itu dianggap sebagai salah satu solusi bagi para perokok yang ingin berhenti. Namun setelah diteliti 3 hingga 4 tahun belakangan ini, justru 50 persen pengguna vape juga perokok tembakau.

Menurutnya, ada beberapa tahapan bagi perokok yang ingin berhenti, di antaranya pengetahuan tentang bahaya merokok, seberapa besar keinginan untuk berhenti merokok, kendala-kendala dan strategi untuk berhenti merokok.

“Duapuluh persen yang ingin berhenti merokok karena metode mendadak. Yakni langsung berhenti di saat itu juga. Metode lainnya adalah dengan bertahap, yakni merokok yang biasanya 20 batang sehari keesokan harinya berkurang menjadi 18, 16, 14 dan seterusnya,” papar Subagyo.

Selebihnya, metode dengan memundurkan jadwal merokok. Contohnya, kalau biasanya merokok mulai pukul 6 pagi, mulai diundur jadi jam tujuh pagi.

Metode pamungkas dari Subagyo adalah memberikan kesempatan pada perokok untuk merokok sepuasnya selama satu jam, dan setelahnya sudah tidak boleh merokok lagi.

Ia menyampaikan kepada keluarga pasien yang berhenti merokok, bahwa biasanya pasien akan uring-uringan pade fase berhenti merokok. “Untuk itu pasangan atau keluarga harus bisa memahami. Atau alternatif lainnya, pasien menggeluti hobi yang sudah  lama tidak dilakukan, seperti fotografi agar sibuk kembali hunting foto. Atau kalau hobinya memancing, bisa juga kembali melakukan aktifitas ini,” saran Subagyo.

Saat pendengar KPFM bertanya tentang obat TBC, apakah hanya bisa didapat di Puskesmas? Subagyo menjelaskan, sebenarnya bisa didapat juga di luar Puskesmas. Hanya saja tidak murah, sekitar Rp 800 ribu untuk dikonsumsi selama satu bulan. Sedangkan bila di Puskesmas, gratis.

Menutup obrolan, Subagyo mengingatkan kembali bila dampak yang ditimbulkan dari tembakau tidak hanya dialami oleh perokok aktif, tetapi juga perokok pasif. “Dan ini menjadi tanggung jawab kita semua, tidak hanya petugas medis,” tambah dokter spesialis paru ini. (JESSICA/KPFM)

Article Categories:
News · Talkshow

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *