background img

40 PERSEN SISWA MASIH TOLAK VAKSIN MR

6 bulan ago written by
IMG-20181003-WA0021

KPFM BALIKPAPAN – Kampanye imunisasi vaksin Measles dan Rubella (MR) bulan ketiga atau Oktober 2018 resmi dimulai, Rabu (3/10). Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Balikpapan menjadi sekolah pertama yang disambangi tim pemberi imunisasi vaksin.

Di sekolah yang terletak di kawasan MT Haryono, Kelurahan Damai, Balikpapan Kota ini ratusan siswa nampaknya masih menolak program dari pemerintah pusat tersebut. Padahal, Dinas Kesehatan Kota (DKK), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta Kementerian Agama (Kemenag) Balikpapan telah memberikan pemahaman yang detail, baik kepada orang tua, sekolah dan juga siswa.

Seperti yang disampaikan Hadi, salah seorang siswa kelas IX di SMPN 7 Balikpapan. Dia mengaku khawatir akan dampak dari penyuntikan vaksin tersebut yang bisa menyebabkan kelumpuhan. “Takut saja, banyak informasi yang beredar di media sosial kalau habis disuntik itu langsung lumpuh. Bahkan badan tidak bisa bergerak semua. Makanya saya sangat takut hal serupa terjadi sama diri saya,” akunya di sela-sela pelaksanaan imunisasi.

Hal serupa juga disampaikan Ridwan. Siswa kelas IX ini juga mengaku kalau dirinya menolak untuk divaksin. Alasanya? Karena vaksin tersebut tidak halal dan bisa menyebabkan kelumpuhan. “Saya dikasih tahu kalau itu tidak halal. Saya juga mendengar cerita dari teman-teman kalau itu bisa menyebabkan kelumpuhan. Kalau begini siapapun ya pasti takut,” ujar Ridwan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Muhaimin yang hadir dalam pelaksanaan imunisasi perdana bulan Oktober itu menyampaikan bahwa Disdikbud sangat mensuport DKK untuk menyukseskan pelaksanaan imunisasi vaksin MR di Kota Balikpapan.

“Makanya hari ini kami turun langsung untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak yang masih ragu dan menolak untuk divaksin. Karena ini sangat penting untuk kesehatan anak,” ungkapnya.

Muhaimin mengaku, di SMPN 7 Balikpapan yang merupakan sekolah pertama pelaksanaan imunisasi di bulan Oktober ini, berdasarkan data yang diberikan kepala sekolah, persentase siswa yang menerima dan menolak untuk divaksin itu berada pada angka 60 persen dan 40 persen.

“Itu data dari kepala sekolah. 60 persen yang menerima dan 40 persen yang menolak. Nah, yang menolak ini kami kumpulkan, kemudian kami tanya kepada beberapa anak apa alasannya sehingga menolak. Dan alasannya itu cukup menarik, mereka bilang menurut media sosial kalau divaksin itu bisa menyebabkan lumpuh, tidak bisa berjalan. Ada juga yang bilang vaksin itu haram. Ada juga yang bilang kalau divaksin bisa jadi kurus,” ujar Muhaimin.

Dari berbagai alasan tersebut, lanjut Muhaimin, pihaknya menyimpulkan bahwa ketidakbersediaan anak-anak untuk divaksin itu ada dua hal. Pertama, karena belum ada persetujuan dari orang tua , dan kedua, karena ketidaktahuan akan manfaat dari vaksin tersebut.

“Nah, makanya tadi tim dari DKK memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada siswa yang menolak bahwa vaksin itu tidak menyebabkan kurus atau menyebab lumpuh. Soal halal haram juga sudah saya jelaskan, kalau sudah ada keputusan dari MUI yang menyatakan bahwa vaksin itu diperbolehkan karena tidak ada obat lain untuk pencegahan Rubella selain vaksin ini. Kemudian lebih berguna juga untuk kesehatan,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Muhaimin, MUI Kota Balikpapan juga telah mengeluarkan surat edaran kepada sekolah-sekolah di Balikpapan agar mendukung penuh pelaksanaan program kampanye imunisasi MR ini.

“Dan alhamdulillah setelah menerima edaran dan diberikan pemahaman, sebagian anak yang tadinya menolak akhirnya mau divaksin. Tapi, sebagian masih ada yang ragu-ragu, dan kami tidak memaksa mereka. Kami memberikan kesempatan untuk meminta persetujuan dari orang tua masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Esther Vonny menegaskan bahwa pelaksanaan imunisasi MR ini merupakan tanggungjawab bersama. Sehingga, di bulan Oktober ini pihaknya bersinergi dengan Disdikbud, MUI dan Kemenag untuk menyukseskan program itu demi mencapai target 95 persen.

“Jadi bukan hanya DKK. Memang aspeknya ada di DKK, tapi sasaran anak 9 bulan hingga 15 tahun itu 70 persen ada di sekolah. Makanya kami bersinergi dengan Disdikbud, MUI dan Kemenag untuk menyukseskan program ini agar bisa mencapai target. Salah satunya dengan langsung turun bersama-sama ke lapangan. Kami memantau, kalau ada kendala seperti penolakan dengan berbagai alasan, kami langsung memberikan pemahaman dan menyakinkan mereke bahwa Rubella itu hanya bisa dicegah melalui Imunisasi vaksin MR,” jelasnya.

Seperti diketahui, pelaksanaan kampanye imunisasi vaksin MR bulan Oktober 2018 ini merupakan waktu perpanjangan dari bulan Agustus dan September. Hal ini dikarenakan pencapaian di dua bulan tersebut belum maksimal bahkan sangat jauh dari targe 95 persen. (Fredy Janu/Kpfm)

Article Categories:
News

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in D:\_htdoc\kapefm.com\wp-includes\class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *